Tuesday, April 2, 2024
Thursday, November 23, 2023
Hembusan nyawa
Hembusan nyawa
Penulis : Lutfil Hakim
Di kala cuaca mendung
Irama denyut nadi bersenandung
Birunya langit tersamarkan oleh kepulan kelabu yang menghiasi
Takkan menghalangi riangnya hati para syuhada tuk menyambut salam dari pencabut nyawa
Bahkan tekad api terus berkobar walaupun badai kian menerjang
Dan tiap peluru menghujam tiap saka dan tiang takkan menghentikan suara adzan yang tiada henti berkumandang
Sekalipun tiap hembusan nafas adalah tarikan nyawa
Sekalipun tiap telinga kami tuli karena lelah mendengar jeritan
Sekalipun tiap galian tanah mengundang tangisan
Kami takkan berhenti berlari dan terus mendaki ke gunung nan tinggi serta berdiri diatas dunia demi mengibarkan kebenaran yang abadi.
Tuesday, October 24, 2023
Tirani Terbit Kembali
Tirani Terbit Kembali
Di atas mahligai suci kami berdiri
Menatap keindahan gerhana
mentari Kegelapan penuh gairah tuk orasi
Bersama proletariat nan
berkecamuk hati
Sembari menanti redupnya
aneksasi
Melawan lantunan nada basi Menaki retorika nan patut dibasmi
Hingga lelah bersuara pada puri nan tuli
Tiada lagi amanah yang suci Sungguh Apalah arti demokrasi di negeri oligarki
Monday, October 16, 2023
SUKAR
Friday, October 30, 2020
BUDAK MODERN
Sumber Ilustrasi : liputan6.com
Oleh : Tanpa Nama
Berlayar tak bertepian
Pergi tak tahu arah dan tujuan
Terpaksa bekerja siang dan malam
Setetes airpun tak mereka dapatkan
Mereka para budak modern
Terperangkap ditengah lautan lepas
Melihat daratanpun rasanya tak mungkin
Hari-harinya penuh harap dan rasa cemas
Kehidupan mereka terkungkung
Upahnya dibayar murah
Hak asasi pun dilanggar
Lalu dimana letak kemanusiaan?
Hak asasi manusia harus ditegakkan
Pemerintah harus turun tangan
Hentikan segala bentuk pelanggaran
Hidupkan kembali rasa kemanusiaan
Saturday, October 24, 2020
Sampai Kapan?
Oleh : Sar
Hampir tiga tahun membuntu
Seorang pria memendam pilu
Menyaksikan sepak terjang keruh
Segelintir yang
mencoba pura-pura tak tahu
Tiga tahun,
Bukanlah waktu yang sempit
Mencoba menggali kebenaran
Namun hasilnya tak setimpal
Ada apa gerangan negeriku ini
Keadilan belum nampak batang hidungnya
Seseorang yang berjuang melawan kezaliman
Malah tertikam pedang yang ganas
Pria itu,
Penglihatannya berkurang satu
Namun, tidak pada keberaniannya
Sejatinya ia masih sempurna
Pada akhlak dan perilakunya
Sampai kapankah ini terjadi?
Apakah menunggu ini kembali ?
Hingga muncul manusia-manusia lain yang menjadi tumbal ?
Terhadap pahitnya penegakan kaidah di bumi pertiwi
Tikus berdasi tertawa riang
Mereka sadar masih dalam ruang yang aman
Payung kedudukan masih melindungi mereka
Hingga penggelapan tak kunjung menemui batas
Lantas, sampai kapan ?
Friday, October 16, 2020
DUNIA SAAT INI
Sumber Ilustrasi : pngdownload.id
Oleh : Tanpa Nama
Sebagai manusia yang angkuh, aku telah di sadarkan oleh sebuah jeda yang memaksaku terperangkap dibalik bilik ruang yang orang sebut itu rumah,
Di dalam ruang yang penuh keteduhan, kepalaku bising dengan segala tanya dan penyesalan yang membabi buta diriku dengan perasaan penuh bersalah,
"Hai dunia, apa kabar?" Maaf, sudah membuatmu terluka dengan begitu hebat.
Layar televisi di sudut ruang, telah menyuguhkan keadaanmu yang tampak murung, sangat lemah dan ditopang oleh kegelapan yang menyelimuti,
Kuas kelabu manusia, sudah menggelapkan ragamu yang terlampau kusut,
Kau sudah sangat payah, seakan kau tak lagi mampu berjalan, seakan sang mentari tak akan lagi memberimu warna terangnya,
Kini, udara sejuk yang disuguhkan oleh semesta, seakan telah kalah oleh rasa takut yang menggentayangi setiap telinga,
Tapi, apakah kau tau?
Dari balik bilik ruang tempatku meneduh, aku dapati banyak cerita bahwa diluar sana masih banyak yang menebar kasih sayang untuk merajut kasih,
Mencoba menopang ragamu yang kusut dengan harapan penuh asa, percaya bahwa kau akan kembali pulih dari segala lelah dan sakitmu,
Cobalah untuk membuka hatimu agar pelangi mampu kembali melukis senyummu, gunakan telingamu untuk mendengar banyak teriakan harapan yang di sorakan, dan bukalah matamu untuk melihat lukisan warna baru yang perlahan menutupi kelabu ragamu,
Percayalah masih banyak jutaan raga dan jiwa yang memiliki hati, yang siap untuk menjadi payungmu dari hujan keserakahan dan keangkuhan yang begitu deras,
Dan aku yakin, harapan serta kasih sayang akan selalu menyelimutimu dan akan kembali memulihkanmu dari rasa sakit yang sudah lama menusukmu secara perlahan.
SEBUAH JEDA
Sumber Ilustrasi : bobo.grid.id
Oleh : Tanpa Nama
Dunia sedang tidak ramah.
Manusia seluruh bumi mengaduh, merenung, luruh.
Lantas terbangun pula sadarku.
Sebuah jeda menyadarkan manusia yang angkuh.
Hampa kata mereka.
Melihat dunia seakan berhenti berputar.
Istirahat hingga tak tahu sampai kapan.
Media massa kini semakin gempar.
Bumi ini sudah tua.
Penuh debu dan gas karbon dioksida.
Kita ini terlalu sibuk bekerja.
Hingga lupa berbincang dan menyapa antar sesama.
Mungkin ini waktunya.
Langit biru kembali terlukis sempurna.
Mungkin ini sudah porsinya.
Mengistirahatkan isi kepala yang penuh beban dunia.
Wednesday, October 14, 2020
Bait Sang Pekerja
Oleh : Sar
Tatkala fajar mulai
menjelma
Sang pekerja bergegas mencari
penerimaan
Menahan kekakukan yang
dihadirkan semesta
Demi insan yang menunggu
dalam gerbang penantian
Segala peluhnya sering
kali tak seirama
Dengan manusia yang berkuasa
atas aktiva
Ketidakseimbangan acap
kali menjadi lazim
Kala mereka menuntut
segenggam hak yang patut
Tak ada lagi pilihan
Hidup terlalu keras
nampaknya
Selalu membidas mereka
yang layuh
Ah, apakah ini hukum
alam dari masa ke masa?
Sang pemangku seyogianya memberi afeksi
Menyandarkan
keberpihakan pada sang
pekerja
Membuat payung lindung yang
manusiawi
Agar tiba secercah cita
penebus letihnya asa



.jpg)



