Tuesday, April 2, 2024

Pantura




Pantura

Penulis : Lutfil Hakim


Matahari terbit tampak dari utara jawa
Tetesan darah dan keringat para pitarah
Membangun kausa peradaban pantai utara
Sebuah kehangatan kian menjamah

Hingga menjadi Tempat teduh para pengelana
Suara klakson bising tetapku nikmati sebagai lagu
Desakan yang menghambat penantian sanak saudara
Liang-liang yang kala itu menjadi sumber kesedihan

Rintisan niaga berdiri di sepanjang arteri negeri
Iringan cahaya obor ikut serta menyertai
Merehatkan sejenak para pecandu kopi
Sembari berdoa di penghujung malam bulan suci

Bagaikan radiator spring yang nan sirna akan kejayaan
Sumber kehidupan tersulih lidah hitam menjulur
Menyirnakan vibrasi kenangan jalan
Yang hanya Sebatas jalur tak beralur

Thursday, November 23, 2023

Hembusan nyawa







 Hembusan nyawa

Penulis : Lutfil Hakim


Di kala cuaca mendung 

Irama denyut nadi bersenandung 

Birunya langit tersamarkan oleh kepulan kelabu yang menghiasi

Takkan menghalangi riangnya hati para syuhada tuk menyambut salam dari pencabut nyawa


Bahkan tekad api terus berkobar walaupun badai kian menerjang 

Dan tiap peluru menghujam tiap saka dan tiang takkan menghentikan suara adzan yang tiada henti berkumandang


Sekalipun tiap hembusan nafas adalah tarikan nyawa

Sekalipun tiap telinga kami tuli karena lelah mendengar jeritan

Sekalipun tiap galian tanah mengundang tangisan 


Kami takkan berhenti berlari dan terus mendaki ke gunung nan tinggi serta berdiri diatas dunia demi mengibarkan kebenaran yang abadi.


Tuesday, October 24, 2023

Tirani Terbit Kembali




 Tirani Terbit Kembali 

Oleh : Lutfil Hakim

Di atas mahligai suci kami berdiri

Menatap keindahan gerhana

mentari Kegelapan penuh gairah tuk orasi

Bersama proletariat nan

berkecamuk hati

Sembari menanti redupnya

aneksasi

Melawan lantunan nada basi Menaki retorika nan patut dibasmi

Hingga lelah bersuara pada puri nan tuli

Tiada lagi amanah yang suci Sungguh Apalah arti demokrasi di negeri oligarki

Monday, October 16, 2023

SUKAR



SUKAR

Ketika rintik hujan, ketika itu pula ada seseorang berbagai watak membenarkan semesta
Kewarasanku memang amat sulit sedikit mereda. 
Namun, waras atau tidaknya. 
Raga ini yang tak mampu menahan rasa perih dalam menjaga sekadar harapan semata.

Paras itu membayangi dan menjadi bayang-bayang fatamorgana kehidupan.
Kala itu ...catatan kelam tak perlu terulang 
Adakala sebagian orang menyesali keberadaannya .
Tidak usah risau .. ini kehidupan yang sebenarnya, memang terkadang bingung, bingung harus melakukan apa, bingung akan hal apa. 
Kini dalam benaknya hanya terlontar kesalahan yang tak perlu adanya.
Ntahlah ... seiring waktu yang terus berputar 
Tak terasa.. semakin menunjukan keegoan yang tak kunjung reda. Dan ... kala itu kau harus ingat lontaran kata demi kata.
Coba dengar, kali ini..
"Jikalau kau katakan, tidak ingin merasakan pahitnya kehilangan, kau bilang jangan pernah mempermainkan makhluk bernama perasaan" 

Usai sudah perjalanan 
Dalam malam penuh keheningan ini..
Langit pernah menangis, menangis kehidupan di bumi.
Langit juga pernah marah, marah datang kala badai. 
Badai selalu datang, kapan, dimanapun berada.
Namun kau harus paham ini, "setelah badai usai, akan ada sepucuk keindahan hadir memberikan warna, menghiasi langit yang dulu pernah terbakar".

Hari ini aku merasakan nostalgia merasuk batin. Saat itu
Kala senja .. dia akan hadir waktu tiba
Jadi, tunggu perlahan saja.
Jika waktu sudah memihak, 
Jika keadaan sudah reda,
Jangan resah, apalagi katakan "aku cukup diam".

Disya, 4 Juni 2022


 

Friday, October 30, 2020

BUDAK MODERN

Sumber Ilustrasi : liputan6.com

Oleh : Tanpa Nama

Berlayar tak bertepian

Pergi tak tahu arah dan tujuan

Terpaksa bekerja siang dan malam

Setetes airpun tak mereka dapatkan


Mereka para budak modern

Terperangkap ditengah lautan lepas

Melihat daratanpun rasanya tak mungkin

Hari-harinya penuh harap dan rasa cemas


Kehidupan mereka terkungkung

Upahnya dibayar murah

Hak asasi pun dilanggar

Lalu dimana letak kemanusiaan?


Hak asasi manusia harus ditegakkan

Pemerintah harus turun tangan

Hentikan segala bentuk pelanggaran

Hidupkan kembali rasa kemanusiaan


Saturday, October 24, 2020

Sampai Kapan?

 

Oleh : Sar

Hampir tiga tahun membuntu

Seorang pria memendam pilu

Menyaksikan sepak terjang keruh

Segelintir  yang mencoba pura-pura tak tahu

 

Tiga tahun,

Bukanlah waktu yang sempit

Mencoba menggali kebenaran

Namun hasilnya tak setimpal

 

Ada apa gerangan negeriku ini

Keadilan belum nampak batang hidungnya

Seseorang yang berjuang melawan kezaliman

Malah tertikam pedang yang ganas

 

Pria itu,

Penglihatannya berkurang satu

Namun, tidak pada keberaniannya

Sejatinya ia masih sempurna

Pada akhlak dan perilakunya

 

Sampai kapankah ini terjadi?

Apakah menunggu ini kembali ?

Hingga muncul manusia-manusia lain yang menjadi tumbal ?

Terhadap pahitnya penegakan kaidah di bumi pertiwi

 

Tikus berdasi tertawa riang

Mereka sadar masih dalam ruang yang aman

Payung kedudukan masih melindungi mereka

Hingga penggelapan tak kunjung menemui batas

 

Lantas, sampai kapan ?

Friday, October 16, 2020

DUNIA SAAT INI

Sumber Ilustrasi : pngdownload.id

Oleh : Tanpa Nama

Sebagai manusia yang angkuh, aku telah di sadarkan oleh sebuah jeda yang memaksaku terperangkap dibalik bilik ruang yang orang sebut itu rumah,

Di dalam ruang yang penuh keteduhan, kepalaku bising dengan segala tanya dan penyesalan yang membabi buta diriku dengan perasaan penuh bersalah,

"Hai dunia, apa kabar?" Maaf, sudah membuatmu terluka dengan begitu hebat.

Layar televisi di sudut ruang, telah menyuguhkan keadaanmu yang tampak murung, sangat lemah dan ditopang oleh kegelapan yang menyelimuti,

Kuas kelabu manusia, sudah menggelapkan ragamu yang terlampau kusut, 

Kau sudah sangat payah, seakan kau tak lagi mampu berjalan, seakan sang mentari tak akan lagi memberimu warna terangnya,

Kini, udara sejuk yang disuguhkan oleh semesta, seakan telah kalah oleh rasa takut yang menggentayangi setiap telinga, 

Tapi, apakah kau tau?

Dari balik bilik ruang tempatku meneduh, aku dapati banyak cerita bahwa diluar sana masih banyak yang menebar kasih sayang untuk merajut kasih,

Mencoba menopang ragamu yang kusut dengan harapan penuh asa, percaya bahwa kau akan kembali pulih dari segala lelah dan sakitmu,

Cobalah untuk membuka hatimu agar pelangi mampu kembali melukis senyummu, gunakan telingamu untuk mendengar banyak teriakan harapan yang di sorakan, dan bukalah matamu untuk melihat lukisan warna baru yang perlahan menutupi kelabu ragamu,

Percayalah masih banyak jutaan raga dan jiwa yang memiliki hati, yang siap untuk menjadi payungmu dari hujan keserakahan dan keangkuhan yang begitu deras,

Dan aku yakin, harapan serta kasih sayang akan selalu menyelimutimu dan akan kembali memulihkanmu dari rasa sakit yang sudah lama menusukmu secara perlahan.


SEBUAH JEDA


Sumber Ilustrasi : bobo.grid.id

Oleh : Tanpa Nama

Dunia sedang tidak ramah.

Manusia seluruh bumi mengaduh, merenung, luruh.

Lantas terbangun pula sadarku.

Sebuah jeda menyadarkan manusia yang angkuh.


Hampa kata mereka.

Melihat dunia seakan berhenti berputar.

Istirahat hingga tak tahu sampai kapan.

Media massa kini semakin gempar.


Bumi ini sudah tua.

Penuh debu dan gas karbon dioksida.

Kita ini terlalu sibuk bekerja.

Hingga lupa berbincang dan menyapa antar sesama.


Mungkin ini waktunya.

Langit biru kembali terlukis sempurna.

Mungkin ini sudah porsinya.

Mengistirahatkan isi kepala yang penuh beban dunia.


Wednesday, October 14, 2020

Bait Sang Pekerja

 

Sumber Ilustrasi : metro.tempo.co

Oleh : Sar

Tatkala fajar mulai menjelma

Sang pekerja bergegas mencari penerimaan

Menahan kekakukan yang dihadirkan semesta

Demi insan yang menunggu dalam gerbang penantian

 

Segala peluhnya sering kali tak seirama

Dengan manusia yang berkuasa atas aktiva

Ketidakseimbangan acap kali menjadi lazim

Kala mereka menuntut segenggam hak yang patut

 

Tak ada lagi pilihan

Hidup terlalu keras nampaknya

Selalu membidas mereka yang layuh

Ah, apakah ini hukum alam dari masa ke masa?

 

Sang pemangku seyogianya memberi afeksi

Menyandarkan keberpihakan pada sang pekerja

Membuat payung lindung yang manusiawi

Agar tiba secercah cita penebus letihnya asa

Saturday, October 10, 2020

Rumah


Sumber ilustrasi : www.pngwing.com

Oleh : Sar

Kita hampir terhanyut
Oleh pencarian materi
Oleh kegiatan mengabdi
Oleh pengejaran validasi

Waktu tak memendek
Pun tak menunjukan pemanjangan
Mengapa terasa dilematis
Untuk kita sekadar saling bersua

Hingga ia memaksa kita untuk rehat sececah
Merefleksi diri dari hiruk pikuk pekiknya dunia
Dan dia memaksa kita bersama berlama-lama
Membunuh waktu dengan cara yang menarik

Tawa kembali mengisi ruang kosong
Celoteh kembali menggema depan layar
Kolaborasi kembali manyatu dalam aktivitas
Dan jiwa, kembali hangat saling mendekap

Mohon, 
Selepas keadaan berakhir
Harap selalu tetap memadu
Selamanya menghangatkan jiwa
Untuk kalian, manusia yang ku panggil rumah

Friday, September 25, 2020

New Normal

 

Sumber ilustrasi : news.detik.com

Karya: v

Dua kata sederhana

Namun mengandung banyak makna

Terdengar selalu di telinga

Sejak keadaan tak lagi sama

 

Semua orang berbincang

Mereka bertanya-tanya

Apakah new normal sebuah pertanda?

Pertanda keadaan akan kembali seperti biasa

Ataukah sebaliknya?

 

New normal

Era dimana semua terlihat baik

Orang-orang akan Kembali terbiasa

Tapi memiliki jarak satu sama lain

Tetap bertemu

Namun menghindar

Tanpa berlama-lama bersama

Agar tidak tertular

Dan tidak saling menularkan

Wednesday, September 23, 2020

PANCASILA

 

Sumber ilustrasi: clipground.com

(Karya: V) 

Pancasila…
Satu kata mengandung banyak makna 
Berisikan harapan dan tujuan bangsa
Memberi kami tumpuan untuk meraih cita-cita
Kaulah dasar kokoh penopang negara
Pancasila adalah alat pemersatu bangsa 
Mempersatukan berbagai kalangan masyarakat
Agamis, nasionalis, sosialis, budayawan sekalipun
Demi indonesia indah dalam keberagaman
Pancasila…
Bukan hanya lima butir kalimat dan kata-kata 
Bukan hanya formalitas
Bukan hanya sebagai identitas
Bukan hanya rumusan para tokoh pendiri bangsa 
Bukan hanya urusan satu dua golongan saja
Namun menyangkut harkat, martabat dan kehormatan seluruh warga negara Indonesia
Pancasila…
Hanya akan menjadi ideologi
Bila hanya dikatakan tanpa dimaknai 
Tak akan ada yang bisa merubahnya sedikit pun
Apalagi hanya untuk kepentingan para penguasa


Saturday, September 19, 2020

Virus

 

sumber ilustrasi: kompas.com

Karya: Tanpa nama

Melanda berbagai negeri

Menimpa tak pandang bulu

Tua, muda, kaya, miskin

Aku tak peduli

 

Aku datang dari jauh

Dari negeri seberang

Aku berkeliling dunia

Membawa duka di persinggahan

 

Aku mengguncangkan dunia

Memikul kesengsaraan

Membagikannya kepada semua

Membangkitkan rasa takutnya

 

Percuma kau berlari sekencang itu

Takkan bisa kau menghindariku

Takkan mampu kau menjauhiku

Itulah yang selalu kupikirkan

 

Namun kenyataannya merobohkan pikiran

Melukis jarakkah itu

Mengunci dirimu dari dunia

Ya, ternyata kau yang benar

Wednesday, September 16, 2020

Ironi Pendidikan

Sumber ilustrasi: Kompas.com

(Karya : Tanpa Nama) 

Tata krama semakin tipis teriris
Etika kehilangan tahta mulianya
Akhlak semakin tergerus tak mau diurus
Bukankah ini sebuah ironi?

Orang-orang fokus mengejar teori
Lupa pada pengembangan diri
Pintar menjawab setiap soal
Namun lemah dalam sikap

Kini pengetahuan hanya menjadi alat
Untuk memperoleh jabatan demi kekuasaan
Melupakan esensi pendidikan yang sebenarnya
Rasa kemanusiaan diatas segalanya

Berilah ruang pengembangan moral
Jalan beriringan bersama pengetahuan
Jangan fokus hanya pada teori dan angka
Agar negeri ini lebih bermartabat

Saturday, December 30, 2017

DIANTARA TANDA PETIK



Edisi #UCREATE
Karya: M. Kamal Fauzi NIM 1400468
Mahasiswa S1 Pendidikan Kewarganegaraan

Diantara tanda petik
Kutemukan namamu dari rahasia yang Tuhan sembunyikan
Aku tuliskan sebuah kata yang mengasingkan jiwa ku dalam perawatan rasa
Mencari argumen berupa cinta, bertabur duka, mengundang lara dan gundah gulana

Diantara tanda petik
Tersuratlah semua hayal tentang mu
Tentang suatu masygul yang menghantui di sepertiga malam
Yang menghujam tepat di benak ku

Diantara tanda petik
Dititipkan perasaanku dalam keadaan subhat
Bukan aku yang meragu, tapi engkau yang enggan mendiskusikan perasaan ku dengan akal dan hati mu

Jikalah ku minta padamu, maukah engkau genapkan perasaan ini agar ia tak tunggal dan kesepian dalam raga ku?
Seperti halnya mahluk lainya, "bahkan keindahan surga tak bisa menghilangkan Kesepian Adam" begitu kata Khalil Gibran.

Diantara tanda petik
Kau balas segalanya dalam curiga yang membara
Mempertanyakan segalanya dengan terbata-bata
Memaksaku untuk berhenti berharap menghayal tentang mu

Dan di akhir kata sebelum titik diantara dua tanda kutip
Kutulis kata akhir ku
"Masihkah ada secarik tanah untuk ku di taman hati mu"


(Al-Qulman : 2017)

Thursday, November 23, 2017

Kabut Dalam Hujan



Karya: Fitri Nurwulan
Mahasiswa S1 Departemen Pendidikan Kewarganegaraan

Tuhan mengutuk hatiku.
Ketika bagian mimpiku adalah kamu
Menjadikannya gelap dan buta

Sesekali kusibakkan tirai kelabu
Gelap tetap memelukku pilu
Merangkul manja berkecamuk luka

Tentang kita yang tak bermakna 
Tentang kita yang ada di antara iya dan tidak.

Kita adalah kabut, ada tapi semu.
Dan aku adalah hujan,jatuh dan terus kembali.

Aku pernah pergi menikmati luka diri
Aku pernah jauh pergi sekedar untuk membunuh rasa di hati 
Namun takdir tetap memintaku untuk tetap disini

Bersama harapan yang telah usang
Barangkali mengingatmu seperti menatap sebilah belati
Dalam dada ada yang tak ingin terluka
Tapi tak menghindar saat disayat olehnya

Thursday, November 16, 2017

KITA LUPA



Karya: Robby Xandria Mustajab NIM1507223
Mahasiswa S1 Departemen Pendidikan Kewarganegaraan 

Dunia ini fana, setiap peristiwa hanya menjadi sebuah cerita
Setiap cerita hanya menjadi sebuah kenangan
Dan kenangan itu hanya tersimpan dalam ingatan
Sebagian orang atau bahkan seseorang

Disisi lain waktu terus berlalu
Meninggalkan mereka yang sibuk dengan dunianya
Inilah hidup, semua berjalan seolah biasa saja
Sampai kita sadar bahwa kita semakin tua

Kita lupa hidup tak bisa sendiri, meski kita tahu mati sendiri-sendiri
Kita lupa dari mana kita berawal, dan untuk siapa kita berakhir
Kita lupa siapa yang merawat kita dari kecil
Yang kita ingat hanya mereka yang tidak tahu seperti apa kita dibesarkan

Kita lupa

Kita lupa

Monday, April 21, 2014

SAJAK PECANDU

SAJAK PECANDU


Oleh Ivaldo Wibowo
 
Bukan maksud menghindar dari ruang sunyi, tempat kesenangan yang tersamar bersemayam
Namun senja terlanjur menunggu hilang
Ketika bias cahaya berdusta
Sampai harmonika kehilangan rongga-nya
Secangkir susu hangat pelepas dahaga yang lara, seketika membuat terlena
Risau... rasa itu semakin busuk
Berlinang kesal menyibak sendu
Hati mengadu pada sebelah hati yang tabu
Merah merona hati pecandu
Nada-nada minor mengalun tepat dibawah kaki gunung
Cemara di kota tua mengadu lirih pada seorang gagah perkasa
Batu kapur tak jumawa di hardik seorang tua ringkih bertahta
Tulang rawan yang menyendiri, tertawa kaku melihat air laut
Diminumnya hingga lautan surut
Seketika suka selalu tertawa kaku pada pengadu
Pecandu dan pengadu berpadu hidup berjabat tangan
Menanam kebencian di dalam kebun kacang...

Wednesday, July 24, 2013

BANGKIT NAMUN GELISAH

BANGKIT NAMUN GELISAH
Hari ini, hari tak ada lagi peperangan
Hari ini kota kembang tak lagi terbakar
Bambu runcing tinggal cerita
Cerita negara, cerita perjuangan bangsa

Katanya bumi pertiwi telah bangkit
Katanya bangkit dari penjajahan
Katanya rakyat miskin telah berkurang
Katanya, katamu, dan kata banyak orang.

Pikiranku bergejolak mendengarnya
Romantisme tak membuatku tertarik untuk berpesta
Khayalku Memburu.....
Kenapa aku gelisah dalam kebangkitan

Aku takut tak mampu mempertahankan
Aku cemas semua orang nyaman dengan keadaaan
Aku tegang jika nanti dikerdilkan suasana
Aku bangkit, kamu bangkit, dia dan semua orang

Namun aku tetap gelisah...


(Ivaldo Wibowo)

Genta

Genta

Hujan membawa nada-nada yg merdu
 bersatu padu dalam harmoni yang begitu gemulai tak beraturan.
Kadang laun, kadang tak wajar juga kadang menghentak.
Petir-petir kecil menjadi melodi gamang kepahitan.
Sudah... sudah... tak ada lagi kata ambigu yg harus di gerutu.
Dewa bumi mencatat semua materi yang di dapat.
Tanpa sempurna jujur tak sampai khalayak.
Gelandangan bumi mencaci pertanda mimpi sudah di nodai
 tetap di kursi goyang dengan mahkota berhala
Penyamun di langit tertawa menonton pagelaran wayang robot.
Lambat gerogoti semua yang bernyawa.
Genta... genta... genta... dimana genta yang bersuara nyaring ?
Akan ku pukul genta.
Genta untuk nalar si bermahkota !

(Ivaldo Wibowo)