Wednesday, February 4, 2026

U-BERCERITA: Cerita di Kereta

 Oleh: Lutfil Hakim

Bab 1: Tuntutan

Saya akan mengambil satu petilan kalimat di alinea keempat UUD di sebuah negara nan jauh yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa". Kalimat terasa jelas menggambarkan apa keinginan para leluhur mereka terhadap peran guru sebagai bagian dari pembangunan peradaban bangsa. Namun hal itu menjadi kontradiktif dengan nasib guru, terlebih ada istilah guru honorer. Padahal tidak ada Tentara atau polisi honorer. Mengapa gerangan?

Karena penguasa negara tersebut tidak ingin bangsanya cerdas. Karena itu kunci menciptakan hidup sejahtera para penguasa di sana.

Cuh!!

Hari ini adalah hari guru nasional banalesia. 24 Januari. Ratusan guru honorer protes di di berbagai kota, termasuk di depan kantor walikota Banalesia Ciy Center, ibu kota Republik Banalesia Menuntut kenaikan gaji, terutama bagi honorer. Aku Alvian seorang asisten walikota Banalesia City center, bernama Yadran. Di dalam jadwal pak Yadran tidak ada agenda bertemu dengan demonstran. Tentu akulah yang mewakilinya di depan kantor.

"Pak gimana dengan janji pak Yadran akan memberi gaji tambahan melalui sebagian gajinya”.

Tidak seperti agenda lain, pak Yadran selalu memberikan instruksi. Aku bingung bagaimana menjawab tuntutan itu. Permasalahan lain dari guru, peran mereka telah digerogoti Teacher bot, bahkan aku pun hasil didikan robot. Tentu mereka yang kurang lihai berteknologi terkikis sekali perannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk berdiskusi dengan salah satu dari mereka. Dia bernama Nurhayati dan Pak Mulya. Sepasang suami istri ini telah mengabdi 21 tahun namun hanya digaji 3 juta per enam bulan. Miris sekali. Itu 20 kali dari gajiku. Sebelumnya aku tahu penderitaan guru sering disorot namun tak menyangka separah ini.

"Pak, Bu lantas bagaimana kalian bisa bertahan hingga sekarang?". Tanyaku, Mereka saling bertatap muka.

Tanpa berlama-lama, suaminya membuka kancing satu persatu, betapa terkejutnya aku melihat perutnya, hanya selangkangan tulang 3 garis menonjol. Kontemplasi diriku melihat perutku semakin membuncit, aku selama ini buta keadaan sosial dibalik kemegahan Banalesia City center.

Mendengar seharian keluh mereka tidak masalah bagiku, yang bingung adalah mewujudkan satu persatu keinginan mereka.  Padahal aku sendiri seorang insinyur bukan kepala dinas pendidikan.

Aku berhenti sejenak menenangkan diri. Merenungkan masa lalu penuh kelam. Sedikit kepikiran, bagaimana jika guru disatukan distrik di Kumari kandam.

"Baik ibu, saya lahir di Kumari kandam, sebuah pulau masa depan yang sedang digarap menjadi kota modern nan futuristik"

"Pak, bapak budek?

"Kami ingin gaji bukan tempat tinggal"

Niat aku sebetulnya dengan mereka di sana, aku bisa masuk dan memfasilitasi melalui arsitektur yang aku rancang dengan teknologi mutakhir, seperti layar sekolah di rumah. Sekolah di atas awan yang Tentu memudahkan pembelajaran. Tapi mereka masih kekeuh di banalesia City Center yang sekolah konvensional.

Bukan bermaksud aku tak mau menaikkan gaji tapi setidaknya dengan fasilitas itu bisa meringankan beban guru sebagai pengajar.

"Baik ibu, saya akan menyampaikan keluh ini ke pak Yadran, saya usahakan gaji guru kota Banalesia Ciy center (Banalen) mulai bulan ini naik" .

"Satu hal lagi pak Vian, tolong sampaikan jika bulan ini tidak naik, kami mogok ngajar dan membakar kantor ini".

***

Bertemu guru tadi membuatku tidak bisa tidur. Hingga pukul 01.23 hanya membayangkan masa laluku masih membayangi setiap peradaban. Sedikit kepikiran, apakah sebaiknya mundur. Aku menyeduh kopi. Ku selesaikan 3 rancangan di Kumari kandam, bukan karena rajin, namun ini tanggung jawab terakhirku terhadap pak Yadran.

Tanpa izin aku menuju ruang pribadinya.

Tok-tok

"Pak sedang apa"

"Sibuk, nanti saja"

"Brok" dobrakan pintu keras, sekeras-kerasnya dari sepatu hitam terbuat dari kulit baja hitam.

Seperti biasa, wanita seksi bagaikan bidadari sewaan. Yadran menikmati setiap helaian rambut dan kulit pulen wanita jalang tersebut.

"Pak, maaf saya dengan ini, saya mundur dari jabatan asisten pribadi anda, tiga tugas sudah saya garap"

"Kenapa mendadak?"

"Aku justru dari mundur, apa yang anda kerjakan hanyalah duduk, tanda tangan tanpa melihat di lapangan, saya semakin muak terlebih melihat guru dengan perut mengkisut, dan sepertinya anda juga seharusnya mundur pak"

"Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi, rakyat ini bukan cuma guru. Kau bisa apa?, pilkada saja 3 tahun lagi.."

Aku meninggalkan ruang pribadi itu pintu terbelah jadi dua.

Bab 2: Alibi politik lawan: Naik jabatan

Aku berkemas dari kamar kantorku, hingga aku menginap satu hari terakhir di kantor menjijikan ini, pagi hendak turun dari gedung itu dan bertemu salah seorang demonstran tadi, aku berusaha memalingkan wajah. Tapi ia berlari menghampiriku.

"Mas, makasih ya, saya dapat info ada kenaikan yang tunjangan besar untuk guru di ibukota ini. "

"Wah gercep sekali"

"Ah mas jangan rendah diri, tunjangan kisaran 7-10 juta perbulan berdasarkan surat edaran"

Aku melihat dari surat edaran itu...

Sialan, itu ada nama persetujuanku sebagai plt. kepala dinas pendidikan dan pak Yadran sebagai walikota.

Wajah bahagia guru itu, membuntuh klasifikasiku. Walaupun di situ belum ada tanda tanganku tapi kenapa aku menjadi plt kepala dinas pendidikan, menggantikan Teddy S.Pd

***

Aku tentu menuju kantor dinas pendidikan. Di sana banyak bingkai ucapan terima kasih dan bahkan baliho selamat padaku sebagai dinas pendidikan baru. Itu Gila!!!

Entah bagaimana caranya ini terlalu cepat.

Bahkan aku disambut staf kantor dinas pendidikan yang lain. Dari berita beredar kemarin kantor dinas pendidikan banalesia City Center ini disidak Yadran. Kebetulan seribu kejutan, Teddy bukan kerja melainkan tertangkap basah berduaan dengan seorang wanita. Saat itu pula Yadran pengumuman pergantian kepala dinas. Ini jelas terlalu ganjal, terlalu kebetulan.

Aku meminta cctv, siapa wanita itu oleh staff "baru" ku sebagai kepala dinas pendidikan. Edan bukan kepalang, wanita itu punya ciri-ciri seperti wanita yang dipangku Yadran kemarin. Sialan...

Tinggi bak model busana, walaupun ia mengenakan baju PNB (pegawai negeri Banalesia). Tapi lekukannya mirip , serta Kilauan rambutnya. Itu pasti dia.

***

Aku persetan dengan ucapan selamat dari teman-teman dibalik smartwatch. Saat ini aku harus tahu di mana kepala dinas sebelumnya. Seorang staff mengklaim dibawa ke penjara kota sebelum disidang. Bahkan dalam pencarian berita terbaru, ia kabur di sebuah hutan dari mobil tahanan.

Ini makin konyol, aku menduga Teddy dibiarkan Kabur atau diasingkan karena kebenaran akan kesaksiannya. Satu hal lagi. Para staf diberitahukan untuk menghadiri pelantikanku sebagai kepala dinas pendidikan baru kota Banalesia Ciy Center.

KONYOL SEKALI NEGERI INI.

Bab 3: Janji adalah janji

Aku punya sekitar 1 miliyar lebih, tapi apakah cukup untuk tunjangan guru seluruh kota Banalen ini?. Tidak mungkin aku harus korupsi. Satu-satunya aset adalah menjual seluruh barang koleksiku di rumah. Ada 3 motor gede listrik, berbagai pakaian aku rencanakan aku obral di platform jual beli. Berat juga rasanya akan berpisah dengan benda koleksiku. Terutama gitar tua yang menemaniku di malam syahdu saat masa susah dahulu.

Di bawah lemari terlihat mataku tersorot

“Box apa itu?”

Box itu aku geser, berat juga, mungkin hampir 6 kilo. Aku buka, ternyata berkas proposal dari setiap proyek yang aku rancang. Tanpa sadar tenyata memang dari dulu nominalnya selalu besar. Di sini aku menyadari pentingnya membaca seluruh dokumen yang berkaitan profesi kita.

Anggaran per M-M-an hanya untuk proyek mercusuar, bingung kenapa untuk anggaran guru tidak ada. Berkas tumpukan ke tiga ada satu lembaran sertifikat di dalam bingkai, bertuliskan “kepemilikan hak pakai pulau Kumari kandam”

Aku hampir lupa, aku memiliki aset besar, walaupun bukan kepemilikan pribadi (hak sepenuhnya). Aku bisa menjual ini ke negara lain.

Tapi masalahnya bagaimana cara menjual?.

Satu hal dalam benakku, aku jual saja ke investor yang ikut andil pembangunan Kumari kandam. Harga sebuah pulau kisaran 24 milyar, namun karena hanya hak pengelolaan, aku hanya berani 14 milyar Saja. Persatu barang terjual. Tawar menawar gila-gilaan, tapi hari menuju deadline gaji dan tunjangan guru kian mepet. Sialnya, aku belum menjual semua aset tapi berita kenaikan tunjangan itu kembali mencuat lebih besar lagi. Aku frustasi mendengarnya. Aku hampir putus asa, bunuh diri juga percuma, sudah banyak dosa, amal baik banyak pula setengah ikhlasnya apalagi berhubungan dengan orang tamak setiap hari di pemerintahan. Momen ini justru menjadi kesempatan emas bagi Yadran untuk menaikkan citra di kancah perpolitikan banalesia. Dia diundang sana kemari, di acara berita, podcast dan diskusi publik, ia mengklaim, ide kenaikan tunjangan guru karena gaji pokok sangat rendah dari karyawan pabrik adalah idenya. Aku akui itu benar, tapi caranya licik, ia memeras aku sebagai asisten. Tentu ia sangat yakin itu terwujud karena tahu aku orang tidak tega. Dalam konteks ini, aku tidak tega terhadap guru. Terlebih acara diskusi dengan para guru, akulah yang mengisi.

Untungnya dari investor dari negeri tirai tebu, ada 7, mungkin lebih. Aku akhirnya memutuskan 3 hari untuk pelelangan sertifikat itu. Akhirnya mencapai 600 milyar, sungguh fantastis. Aku meminta diam kepada investor itu untuk tidak memberitahu siapapun soal sertifikat, biar aku saja yang mempublikasikan. Ya sertifikat itu terjual. Sedih rasanya tidak lagi ke Kumari kandam karena secara hukum aku harus membayar jika ke sana? Bagaimana dengan warga banalesia? Ya tetap bayar tapi dalam pengentahuan mereka itu membayar tol jembatan yang naik harganya.Hari gaji guru tiba, wajah guru bersumringah di jalanan dengan sepeda listrik. Aku tersenyum melihat kebahagiaan dibalik jendela kamarku. Justru inilah yang dirasakan sejak dulu. Wajahku pun terpampang di baliho kota. Pelantikanku sebagai disiarkan di tv lokal. Acara meriah melebihi pelantikan Yadran sewaktu memperpanjang jabatan. Balon dengan muka diriku ada mana-mana. Jalanan bagaikan festival.

Di depan balai kota sudah banyak wartawan, mengenai pelantikanku dan gaji serta tunjangan pertama dengan standar terbesar sepanjang republik banalesia. Walaupun masih skala ibukota, kian lama akan menjadi kiblat seluruh negeri. Mungkin sebentar lagi nyawaku terancam oleh pejabat korup di seluruh daerah negeri. Siapa juga yang mau menaikan standar gede-gedean. Harusnya bunuh dulu Yadran sebagai walikota.

“Dari anggaran mana itu pak untuk tunjangan guru?” Tanya wartawan serius

“Tentu dari dana pribadi”. Pak Yadran yang di sebelahku tampak tak terima.

“Eh maksudnya dana pribadi kita masing-masing”

“Apakah ada usulan untuk peraturan daerah atau tingkat di atasnya lagi agar menjadi legalitas pal”?.

“Itu juga termasuk bagian dari inisiatif kami , tunggu saja.”. Pak Yadran tersenyum mendengar jawabanku.

Di dalam ada pak menteri pendidikan banalesia. Sungguh aku disambut hangat olehnya. Aku bersalaman dan dia membisiku “kerja bagus anak muda, tapi nanti ngobrol sebentar ya. Bapak tunggu di ruang kantor si yayad”

Aku mengangguk” yayad siapa pak?”

“Itu panggilan Yadran”.

Saat sumpah, aku melihat pojok setiap ruangan, adakah pembunuh bayaran yang akan menembakku, aku merinding sekali. Tapi kupercayakan pada kucing-kucingku yang merayap setiap sudut jika ada yang mencurigakan lapor ke Resta, Fuad atau Sapta.

Satu kata per kata aku tirukan dari mulut rohaniawan. “Tuhan Yang maha esa , sya berjanji menjadi pemegang tugas amanah publik sesuai kinerja dengan sebaik-baiknya” .  Satu penggalan kalimat menyiksa batin terlebih ibadah saja aku tidak pernah.

Sesuai permintaan, aku ke Menuju ruangan Yadran. Ruangan wangi menyengat, sekumpulan orang berbaju jas merah.

“Sudah berapa guru kau berikan tunjangan itu?”

“kalo berdasarkan data, ada sekitar 5000 guru sih”

“ Wow besar juga, btw ini kamu ada undangan kementrian pendidikan untuk mengunjungi sekolah pelosok, ya itung-itung bisa buat pengalaman kamu”.

Pak menteri pendidikan banalesia biasa disapa pak dengkulis ini menyodorkan Undangan. Undangan itu terdapat qris segala keperluan, dimulai dari keberangkatan menggunakan kereta, membeli oleh-oleh di sana. Daerah pelosok tersebut bernama wawuruh. Aku searching sebentar, daerah tersebut memang menjaga keasrian alam, itu sedikit menyilaukan mataku.

Kemudian pak menteri membisik , menggetarkan gendang telingaku setengah merinding aku tiap kata-katanya.

“Harus datang atau pulau itu lenyap”

Aku bingung kenapa undangan spesial ini terasa horor bagiku.

Bab 4 Cerita di Kereta: Pembajakan

Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak ketiga sahabatku, Resta, Fuad dan Sapta. Untungnya itu diizinkan. Meninggalkan ibukota dan pulau Kumari kandam tidak mengkhawatirkan karena aku sangat percaya pada warga.

Berdiam diri menunggu kereta cepat antar daerah bertenaga minyak sawit.

Cekrak cekrek ... berulang kali Resta berswafoto dengan Restu, kucing tuanya. Aku tidak mengira ia sepansos ini. Sementara Sapta sibuk menggoda penjual roti kering di kios-kios stasiun..aku malu melihatnya, kemudian Fuad masih kelihatan normal, hanya saja barang bawaannya terlalu besar dan masih berdebat dengan petugas stasiun.

“Eh Res, sejak kapan lu narsis beginian kek pernah naik aja”. Tanya aku

“Bukan belum pernah, Cuma gue maunya naik pertama kali itu kereta yang menghubungkan Banalen Ama Kumari kandam, tapi sekarang lu ngajak naik kereta ya udah gue ngikut”. Ujar Resta

***

“Woe buaya, mana roti gue, lapar nih” teriak aku ke Sapta dengan pura-pura tidak mendengar.

Aku berdiri menghampirinya. Suara petugas station bot memberitahu:

“KERETA CEPAT B-E90 AKAN SEGERA DATANG DALAM 1 MENIT”.

“Buset gue lapar gara-gara lu main perempuan Mulu anjay, mana mau berangkat lagi, yuk ah”. Tegur aku ke Sapta

“Dah ya neng , sampai ketemu nanti, temen gue reseh kalo laper”. Ujar Sapta

Mbak-mbak penjual kue mengangguk dengan senyum setengah.

Dalam kereta tampak higienis, berkilauan diantara besi-besi yang tersambung, mungkinkah besi-besi yang aku kumpulkan dahulu..? Persetan!! Yang penting bukan dana haram.

Daripada disebut kereta, rasanya lebih tepat disebut koridor berjalan. Setiap sisi, bisa untuk tidur, di gerbang belakang terdapat beberapa kamar VIP yang siap memanjakan penumpang eksklusif. Sayangnya aku bukan bagian itu, undangan ini hanya kelas menengah.

5 menit aku duduk, kenyamananku diusik lamanya Fuad bernegosiasi dengan petugas. Padahal tidak ada Sajam. Akhirnya Fuad masuk kereta dengan satu tas saja. “Kenapa lu lama banget kek antri sembako? Ad”

“Pendeteksi, merekap bawan gue merah semua. Biasalah aki -aki gunain barang canggih jadi gak guna. Aku duduk di sebelah kiri baris kedua gerbong ketiga, berharap ada pemandangan indah menanti. Aku melihat sedikit ada keributan Dua orang berlari seperti mau ketinggalan kereta, padahal kereta berjalan 20 menit lagi. Mereka hampir menabrak lansia. Mereka mereka duduk di gerbong belakang dengan pakaian serba hitam bak begal.

Sedikit khawatir penampilan mereka seperti perampok, tapi ya sudahlah yang penting waspada. Kereta pun berjalan dengan kecepatan bertahap namun pasti. Orang berpakaian hitam itu terus bolak-balik, sedikit mengganggu ku yang sedang membaca majalah elektronik harian. Terlebih aku tidak membawa kucingku si Rajja yang harusnya bisa menyelidiki siapa orang itu. Hewan peliharaan dilarang di sini. Padahal Rajja layaknya partner bagiku.

Aku mengangguk ke Resta. Ia mengerti kodeku. Resta ke WC, menyiapkan tindakan pencegahan. Entah alat apa yang disiapkan yang jelas untuk penyadapan jika ada sinyal mencurigakan. Sial, orang berpakaian hitam itu pingsan tergeletak begitu saja membuatku sigap menolongnya. Aku yang lengah, lantas dari belakang orang mendekapku, Fuad tidak langsung menolong, ia mengambil posisi seperti posisi tidak mengenalku namun berusaha menenangkan penumpang lainnya.

“Tenang Bu, pak”

Semua orang bersembunyi dibalik kursi-kursi sembari menutup mulut anak mereka agar tidak berteriak.

Hanya satu bayi menangis namun bukan karena takut tapi tidak mendapatkan ASI setelanh ibunya tiarap diantara kursi.

Dengan santainya ada orang menyeletuk

“Ini sedang syuting film action ya”

Entah bagaimana kereta secanggih ini tidak mampu mendeteksi jejak mencurigakan. Setelah kutengok sebelah kiri, belum ku tengok orang pingsan tadi bangun dan langsung menjotoskan pipi kananku.

Aku terjatuh. Dalam alam sadarku, aku mendengar bisikan “Bangun-bangun woe Vian Jangan enakan tidur”  suaranya samar-samar milik Fuad.

Aku bangun setengah sadar, tubuhku ditarik, tampak tak asing orang yang mengangkat kakiku, dia orang tua yang sama persis berdebat dengan Fuad. Di tepi pinggang ada sebilah alat Sajam seperti milik Fuad, sial dia yang mendeteksi dia pula yang merampok barang itu.

Aku memang tidak membenarkan barang bawaan Fuad tapi mengapa dipakai petugas. Aku disekap dalam WC,  seseorang tengah bersiap menarik pelatuk dihadapkan pada dahi. Di sebelahku satu orang berdering gadget dibalik saku.

“Jangan dibunuh dulu goblok, interogasi dulu”. Suara dibalik telepon

“Waduh maaf pak, kebalik saya kira tembak dulu”.

“Otak dipake, gmn mau interogasi kalo orangnya mati dulu”

Di luar masih bersuara suara bergemuruh, sepertinya ketiga sahabatku sedang bertarung dengan para pembajak kereta cepat.

Sementara aku masih berhadapan takdir tak menentu, menggantungkan nyawa dengan interogasi.

“Hey kunyuk, singkat saja hapus kebijakan tunjangan gaji guru itu secepatnya, minimal Minggu ini, atau pulau kesayanganmu dihancurkan.”

Beraninya mereka mempermainkan dengan cara kejam.  Betapa bodohnya aku tidak mempercayakan pada seseorang di sana. Bahkan kucing-kucingku tidak bisa menghubungiku sekarang.

“Janji adalah janji, jika aku mati, bunuh aku sekarang juga, toh bosmu juga tidak sanggup melanjutkan programku, jika aku mati , para guru akan membelaku bahkan seluruh negeri, tidak hanya ibukota saja”.

Mereka terdiam, aku membisiki “bos mu si menteri pendidikan itu kan si dengkulis” Pasukan penyergap ini tampak bergetar. Satu orang yang masih menodongkan senjata tampaknya juga keringat dingin. Tak berselang lama pintu WC didobrak oleh Resta dengan tendangannya, membuat si penodong terjatuh tertimpa.

Aku selamat, walaupun penumpang lain masih terlihat ketakutan. Perjalanan yang telah memakan satu jam lebih perjalanan, heran kenapa belum ke stasiun kota terdekat.

Aku menarik rambut salah seorang penyergap yang tergeletak tak berdaya

“Hey kalian membajak masinis juga gak?” Tanya aku”

Dengan suara terbata-bata menahan rasa sakit di ubun-ubun dia mengatakan

“aduuuh sakit....eeh seharusnya tidak, kami hanya ditugaskan mengintrogasimu pak”

Aku berlari hingga gerbong pertama, aku mengira ini kerja otomatis. Tetap ada masinis,

“Pak, kok tadi gak berhenti stasiun, tenang para penjahatnya sudah saya amankan”

Masinis hanya diam dan tampak gugup dan terus menjalankan mesin. Padahal kereta ini dijalankan bisa dengan santai tapi masinis ini gugup sekali seperti baru pertama kali mengendarai.

Aku hendak balik badan tapi setelah ku amati seperti ads yang mengganjal dari seragam masinis itu, yakni tidak sama dengan petugas lain, warnanya saja sama, biru langit.

“Jawab jujur pak, kenapa bapak diem saja, bapak satu komplotan dengan mereka ya?”

Aku mengambil kuda-kuda bersiap untuk menyeret dia.

“Diam kau, lihat maps itu, tampaknya kita akan adu banteng dengan kereta lain”

“Lho kok bisa pak”

Aku pun melihat lihat di sistem proyeksi kereta, di bawah sebelah masinis ini ada seseorang.

“Lha ini siapa pak”?

“Dibilang diem, lu pengen selamet kagak?”

Tubuh bergelatak itu memiliki seragam yang sama dengan petugas, aku menduga dialah masinis sesungguhnya.

“Waduuuh, jadi lu pembajak juga”

“Udah ini gimana cara mindahin posisi kereta”

Aku rampak kebingungan, kereta lain itu juga sepertinya tidur si masinis terlalu mengandalkan mesin otomatis. Aku harus mencari cara untuk menghubungi stasiun terdekat untuk mengubah rel, aku tidak peduli tujuanku sampai atau tidak, banyak nyawa tak berdosa di sini.  Pada titik rel di atas jembatan kakiku sudah merinding, kereta lain sudah tampak semakin mendekat.

“Lu lama amat ngapain sih?” Tanya Fuad santai datang tidak tahu situasi.

Aku dan masinis gadungan kompak berteriak di hadapan mukanya “DIAM”

Fuad terkejut, seketika menengok matanya melotot seperti akan sakaratul maut.

“Lho kok ..?... haaaa”.

Tidak ada kata untuk menjelaskan, Fuad mengambil posisi memencet sesuatu seperti logo terjun payung.

“Huwasssss”

Kereta lain itu melewati kereta cepat yang kutumpangi yang telah terangkat satu persatu gerbong oleh terjun payung.

Kami mendarat semua pada satu titik hitam belantara. Kereta berbunyi alarm otomatis, memancarkan cahaya berputar ke langit, untunglah langit sedikit senja. Masinis itu pun ditangkap oleh polisi yang datang dari helikopter, kami seluruh penumpang pun dievakuasi.

Latest
Next Post

Unit Pers dan Penerbitan HMCH adalah salah satu unit khusus dalam intern Himpunan Mahasiswa Civics Hukum Jurusan Pendidikan Kewaganegaraan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia yang bergerak di bidang jurnalistik

0 comments: