Camat Tenny menjelaskan bahwa perubahan jawaban yang terjadi bukan sekadar upaya menutupi fakta atau berbohong, melainkan berkaitan dengan kondisi yang terlihat pada Suderajat dan istrinya berdasarkan hasil asesmen lintas instansi. Dari asesmen tersebut ditemukan indikasi disabilitas yang diduga memengaruhi cara kedua pihak merespons pertanyaan dan menjelaskan situasi mereka.
“Mungkin jawabannya ketika ditanya selalu berubah-ubah dan terkesan
seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas,
baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” ujar
Tenny, dikutip dari Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Menurut Tenny, kondisi itu menyebabkan kemampuan verbal Suderajat
dan istrinya menjadi terbatas, sehingga informasi yang disampaikan tidak selalu
runtut atau konsisten. Temuan ini muncul ketika pemerintah kecamatan
menindaklanjuti polemik yang berkembang di media sosial dan pemberitaan publik.
Kontroversi Jawaban Berubah-Ubah
Persoalan publik bermula ketika video pertemuan antara Suderajat dan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjadi viral. Dalam berbagai momen
percakapan itu, Suderajat memberikan sejumlah pernyataan yang kemudian
dikoreksi atau dianggap berbeda dari fakta oleh beberapa pihak. Dalam video
yang beredar, Dedi Mulyadi menyoroti setidaknya tiga pernyataan Suderajat yang
dinilai tidak sesuai fakta.
Salah satu yang disorot adalah pengakuan Suderajat mengenai status
tempat tinggalnya. Suderajat sempat menyebut tinggal di rumah kontrakan, namun
kemudian terungkap bahwa rumah tersebut merupakan rumah warisan keluarga. Hal
ini memicu kritik Dedi Mulyadi terkait ketidaksesuaian informasi awal yang
diberikan oleh Suderajat kepada publik.
Selain itu, terdapat pula pernyataan mengenai biaya pendidikan anak
serta kondisi ekonomi keluarga yang dinilai tidak selaras dengan temuan di
lapangan. Perbedaan keterangan tersebut memunculkan penilaian dari sebagian
publik bahwa Suderajat sengaja membangun narasi tertentu untuk memperoleh
simpati.
KDM Kecewa dan Menekankan Faktual
Dedi Mulyadi menyampaikan kekecewaan dan kemarahannya karena merasa
dibohongi. Ia menegaskan bahwa fakta harus selaras dengan cerita yang
disampaikan, terlebih ketika informasi tersebut telah viral dan memengaruhi
persepsi masyarakat luas. Dedi juga mengingatkan bahwa simpati publik
seharusnya dibangun berdasarkan kondisi yang benar dan transparan.
Pernyataan Dedi ini turut menjadi pembahasan di berbagai media,
termasuk saat sejumlah pihak menilai bahwa kasus tersebut bukan sekadar
persoalan pribadi, melainkan juga terkait etika dalam menyampaikan informasi di
ruang publik.
Pandangan Sosiolog
Kasus ini turut mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Seorang
sosiolog menilai fenomena viral seperti ini dapat terjadi karena adanya
dinamika ekonomi perhatian, di mana cerita individu yang menyentuh emosi publik
dapat berkembang menjadi komoditas sosial. Dalam kondisi seperti itu, narasi
yang muncul kerap mengalami distorsi, baik karena tekanan situasi maupun
dorongan untuk membuat cerita lebih dramatis.
Sosiolog tersebut juga menekankan bahwa masyarakat perlu memahami
konteks sosial dan psikologis dari individu yang viral. Tidak semua perbedaan
pernyataan dapat dimaknai sebagai kebohongan yang disengaja, sebab ada faktor
lain seperti tekanan, keterbatasan komunikasi, hingga kondisi psikologis
tertentu.
Hasil Asesmen dan Langkah Pendampingan
Dalam keterangannya, Camat Tenny Ramdhani menyebut hasil pemeriksaan
awal mengarah pada dugaan adanya gangguan mental pascatrauma yang berkaitan
dengan keterbatasan verbal Suderajat dan istrinya. Kondisi tersebut diyakini
menjadi salah satu penyebab jawaban keduanya sering berubah-ubah saat ditanya.
Pemerintah Kecamatan Bojonggede, kata Tenny, akan terus memantau
kondisi Suderajat dan keluarga, termasuk menjajaki pendampingan sosial agar
mereka dapat menghadapi tekanan publik dengan lebih aman. Pihak kecamatan juga
berharap masyarakat menghentikan stigma dan perundungan terhadap keluarga
Suderajat.

0 comments: