Wednesday, February 4, 2026

Jawaban Suderajat Penjual Es Gabus Viral Berubah-ubah hingga Dikira Berbohong, Camat Bojonggede: Hasil Asesmen Ada Indikasi Gangguan Mental Pascatrauma

Bandung, 4 Februari 2026  Sorotan publik terhadap pedagang es gabus yang viral, Suderajat, kembali memuncak setelah Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, mengungkap fakta baru terkait perubahan pernyataannya yang kerap dianggap tidak konsisten. Pernyataan tersebut sempat memicu anggapan bahwa Suderajat berbohong, terutama dalam pertemuannya dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Camat Tenny menjelaskan bahwa perubahan jawaban yang terjadi bukan sekadar upaya menutupi fakta atau berbohong, melainkan berkaitan dengan kondisi yang terlihat pada Suderajat dan istrinya berdasarkan hasil asesmen lintas instansi. Dari asesmen tersebut ditemukan indikasi disabilitas yang diduga memengaruhi cara kedua pihak merespons pertanyaan dan menjelaskan situasi mereka.

“Mungkin jawabannya ketika ditanya selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” ujar Tenny, dikutip dari Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Menurut Tenny, kondisi itu menyebabkan kemampuan verbal Suderajat dan istrinya menjadi terbatas, sehingga informasi yang disampaikan tidak selalu runtut atau konsisten. Temuan ini muncul ketika pemerintah kecamatan menindaklanjuti polemik yang berkembang di media sosial dan pemberitaan publik.

Kontroversi Jawaban Berubah-Ubah

Persoalan publik bermula ketika video pertemuan antara Suderajat dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjadi viral. Dalam berbagai momen percakapan itu, Suderajat memberikan sejumlah pernyataan yang kemudian dikoreksi atau dianggap berbeda dari fakta oleh beberapa pihak. Dalam video yang beredar, Dedi Mulyadi menyoroti setidaknya tiga pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai fakta.

Salah satu yang disorot adalah pengakuan Suderajat mengenai status tempat tinggalnya. Suderajat sempat menyebut tinggal di rumah kontrakan, namun kemudian terungkap bahwa rumah tersebut merupakan rumah warisan keluarga. Hal ini memicu kritik Dedi Mulyadi terkait ketidaksesuaian informasi awal yang diberikan oleh Suderajat kepada publik.

Selain itu, terdapat pula pernyataan mengenai biaya pendidikan anak serta kondisi ekonomi keluarga yang dinilai tidak selaras dengan temuan di lapangan. Perbedaan keterangan tersebut memunculkan penilaian dari sebagian publik bahwa Suderajat sengaja membangun narasi tertentu untuk memperoleh simpati.

KDM Kecewa dan Menekankan Faktual

Dedi Mulyadi menyampaikan kekecewaan dan kemarahannya karena merasa dibohongi. Ia menegaskan bahwa fakta harus selaras dengan cerita yang disampaikan, terlebih ketika informasi tersebut telah viral dan memengaruhi persepsi masyarakat luas. Dedi juga mengingatkan bahwa simpati publik seharusnya dibangun berdasarkan kondisi yang benar dan transparan.

Pernyataan Dedi ini turut menjadi pembahasan di berbagai media, termasuk saat sejumlah pihak menilai bahwa kasus tersebut bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan juga terkait etika dalam menyampaikan informasi di ruang publik.

Pandangan Sosiolog

Kasus ini turut mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Seorang sosiolog menilai fenomena viral seperti ini dapat terjadi karena adanya dinamika ekonomi perhatian, di mana cerita individu yang menyentuh emosi publik dapat berkembang menjadi komoditas sosial. Dalam kondisi seperti itu, narasi yang muncul kerap mengalami distorsi, baik karena tekanan situasi maupun dorongan untuk membuat cerita lebih dramatis.

Sosiolog tersebut juga menekankan bahwa masyarakat perlu memahami konteks sosial dan psikologis dari individu yang viral. Tidak semua perbedaan pernyataan dapat dimaknai sebagai kebohongan yang disengaja, sebab ada faktor lain seperti tekanan, keterbatasan komunikasi, hingga kondisi psikologis tertentu.

Hasil Asesmen dan Langkah Pendampingan

Dalam keterangannya, Camat Tenny Ramdhani menyebut hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan adanya gangguan mental pascatrauma yang berkaitan dengan keterbatasan verbal Suderajat dan istrinya. Kondisi tersebut diyakini menjadi salah satu penyebab jawaban keduanya sering berubah-ubah saat ditanya.

Pemerintah Kecamatan Bojonggede, kata Tenny, akan terus memantau kondisi Suderajat dan keluarga, termasuk menjajaki pendampingan sosial agar mereka dapat menghadapi tekanan publik dengan lebih aman. Pihak kecamatan juga berharap masyarakat menghentikan stigma dan perundungan terhadap keluarga Suderajat.


Previous Post
Next Post

Unit Pers dan Penerbitan HMCH adalah salah satu unit khusus dalam intern Himpunan Mahasiswa Civics Hukum Jurusan Pendidikan Kewaganegaraan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia yang bergerak di bidang jurnalistik

0 comments: