Tuesday, April 2, 2024

Pantura




Pantura

Penulis : Lutfil Hakim


Matahari terbit tampak dari utara jawa
Tetesan darah dan keringat para pitarah
Membangun kausa peradaban pantai utara
Sebuah kehangatan kian menjamah

Hingga menjadi Tempat teduh para pengelana
Suara klakson bising tetapku nikmati sebagai lagu
Desakan yang menghambat penantian sanak saudara
Liang-liang yang kala itu menjadi sumber kesedihan

Rintisan niaga berdiri di sepanjang arteri negeri
Iringan cahaya obor ikut serta menyertai
Merehatkan sejenak para pecandu kopi
Sembari berdoa di penghujung malam bulan suci

Bagaikan radiator spring yang nan sirna akan kejayaan
Sumber kehidupan tersulih lidah hitam menjulur
Menyirnakan vibrasi kenangan jalan
Yang hanya Sebatas jalur tak beralur

Thursday, November 23, 2023

Hembusan nyawa







 Hembusan nyawa

Penulis : Lutfil Hakim


Di kala cuaca mendung 

Irama denyut nadi bersenandung 

Birunya langit tersamarkan oleh kepulan kelabu yang menghiasi

Takkan menghalangi riangnya hati para syuhada tuk menyambut salam dari pencabut nyawa


Bahkan tekad api terus berkobar walaupun badai kian menerjang 

Dan tiap peluru menghujam tiap saka dan tiang takkan menghentikan suara adzan yang tiada henti berkumandang


Sekalipun tiap hembusan nafas adalah tarikan nyawa

Sekalipun tiap telinga kami tuli karena lelah mendengar jeritan

Sekalipun tiap galian tanah mengundang tangisan 


Kami takkan berhenti berlari dan terus mendaki ke gunung nan tinggi serta berdiri diatas dunia demi mengibarkan kebenaran yang abadi.


Thursday, January 4, 2018

Kamar Belakang


Edisi #UZEREM

Halo, Namaku Destina aku pindah bersama orang tuaku ke daerah yang deket sama rumah nenekku(nenek dari ayah). Jadi, rumahku itu lantainya cuma satu. Gak gede-gede banget sih. Sewaktu masuk ke rumah itu, perasaanku memang udah gak enak.
Apa lagi waktu masuk ke jalan menuju kamar belakang. Sebelum masuk ke kamar belakang itu, ada ruangan lagi, jadi masuk ke pintu ada ruangan kecil yang dijadikan tempat nyimpan barang gak kepakai. Sebelah kanan pintu ada pintu lagi, nah itu kamar belakangnya.
Di ruangan kecil itu aku ngerasa gak enak, tapi entah kenapa, waktu ditanyai mau kamar yang mana, aku memilih kamar belakang. Memang, ruangan kecilnya tidak menyenangkan, tapi kamarnya tenteram banget. Nyampe betah deh. Nah, karena terlalu kebanyakan bicara tentang ruangan kecil itu sama kamar belakang, langsung aja ke intinya.
Malam itu, sehabis pulang dari toko baju, aku pulang sekitar jam 20.45 dan itu pun jamnya orang tuaku sudah tidur. Maklum, pulang kerja. Aku masuk ke dalam ruang belakang untuk menuju kamar belakangku. Nah, disini mulai horornya. Saat masuk, ruang belakang itu lampunya mati. Padahal aku tidak mematikannya karena udah tau kalau nanti aku pulang malam.
Terus sebelum masuk ke ruangan belakang, aku ngeliat ventilasinya itu terang. Di situ aku udah ngerasa merinding, cuma instingku mencoba untuk tenang dan masuk ke kamarku. Paginya, keluar dari kamarku (harus melewati ruang kecil itu lagi), aku semakin dibuat merinding.
Aku mendapati orang tuaku masih tidur namun, lampu ruang kecilnya nyala. “Padahal, tadi malam mati dan gak aku nyalain”, batinku.
Aku segera menggedor gedor pintu kamar orang tuaku.
“Ma pa, tadi matiin lampu ruang kecilya? Tadi malam? Terus nyalain lampunya pagi-pagi?”
“Enggak kok. Pulang kerja mama sama papa langsung tidur gak ngecek kamar kamu.”
Jleb!
Sebelumnya aku gak pernah kayak gini. Aku mencoba tenang. Aku pikir mungkin lampunya konslet. Aku segera mandi dan berkunjung ke rumah nenek. Karena emang udah seminggu semenjak pindah gak kunjung lagi.
“Halo nek, apa kabar?”
“Nenek baik-baik aja. Kalo Tina? Udah diliat nih, pasti baik baik aja.”
“Iya, emang kok. Oh ya nek, ruang kecil menuju kamar Tina kok lampunya konslet ya? Padahal sama papa baru diperbaiki, kok konslet lagi?”
“Oh, pasti tadi malam kamu bawa sesuatu atau habis pergi”
“Iya, tadi malam Tina abis pulang dari toko baju terus bawa baju. Emang kenapa nek?”
“Oh, mungkin dia gak suka sama barang itu”
“Dia? Dia siapa nek?”
“Sudah. Ayo nenek baru saja buat puding coklat. Pasti seger kalau dimakan dingin di musim panas begini!”
Aku tau nenek sedang menyembunyikan sesuatu, batinku. Aku segera pulang setelah memakan 4 potong puding buatan nenek. Enak banget! Aku pulang sekitar jam 16.50 dan sampai di rumah jam 5 tepat. Di rumah, aku cuma sendiri karena orang tuaku masih kerja. Karena merasa ada yang janggal, aku telepon temanku, Rara.
Tina: “Halo ra,apa kabar nih?”
Rara: “Baik aja kok,napa telepon? Tumben?”
Tina: “Ra, bisa gak kamu ke rumahku. Ntar doang kok, temenin….”
Rara: “Oh,boleh. Lagian aku cuma sendiri di rumah. Ya sudah, aku tutup ya.”
Tina: “Oke. Aku menunggu!^^”
Sambil menunggu Rara, aku pergi ke dapur untuk membuat mie karena dari tadi perutku berbunyi, hehe. Saat sedang masak, lampu di ruang kecil konslet lagi. Mati, nyala, mati, nyala dan seterusnya.
“Lho? Kok konslet lagi?”
Karena rasa penasaran, aku pergi ke ruang kecil itu, dan!
Lampunya mati tidak nyala lagi. Setelah menunggu 5 menit, lampu menyala dan astaga!
Siapa di sana?
Seorang perempuan berbaju kuning dengan bercak darah menatapku sinis. Ingin lari dari sana, namun kakiku terasa mati rasa. Tak bisa digerakan, tapi, kakiku tegak dan tidak mau lemas. Yang aku lakukan hanya memejamkan mata berharap orang tak dikenal itu pergi.
Namum, aku merasa ada yang mendekatiku. Suara langkah kaki semakin terdengar jelas. Aku merasa, hantu itu sudah ada depan mataku. Ia memghembuskan nafasnya tepat mengenai pipiku. Setelah itu, ada suara ketukan.
‘Apa aku harus membuka mata? Itu pasti Rara’ aku berbicara dalam hati. Jika pintu tidak dibuka, Rara pasti akan pergi karena merasa tidak ada orang.
“Bu..ka…mata…mu!”suara serak dan seram terdengar di telingaku.
Hantu itu memintaku membuka mata. Yang benar saja! Namun, aku membuka mata dan tidak ada siapa siapa! Aku segera membuka pintu.
“Na, kok lama banget sih?!”
“Maaf Ra, tadi aku abis ke toilet,” aku mengajak Rara masuk.
Di dalam, Rara duduk di sofa dan aku kaget karena mie yang sedangku rebus gosong!
“Aduh, Ra. Mie aku gosong!”
“Lha, siapa suruh lagi rebus mie malah ke kamar mandi”
“Iya, iya, maaf. Lalu, kita akan apa di sini?”
“Ke kamar kamu aja Na. Aku mau liat”
“Ya sudah. Ayo!”
Kami berdua segera masuk ke ruang kecil yang lampunya masih nyala. Ada yang aneh, saat memasuki ruang kecil, muka Rara terlihat pucat. Karena takut kenapa-napa, aku membawanya masuk secepat mungkin kekamarku. “Ra, kamu kenapa?” tanyaku sambil menggoyang goyangkan bahu Rara.
“Ta..ta…ta…tadi, itu apa Na?”
“Apaan sih Ra?”
“Ta…tadi ada perempuan berbaju kuning dengan bercak darah mukanya bonyok seperti abis dipukul dan rambutnya berantakan….”
“Hah?” aku bingung. Apa hantu itu tidak menyukai Rara? Seperti yang dikatakan nenek?! Aku menenangkan Rara yang masih terlihat pucat. Setelah tenang, Rara meminta pulang, yah mau gimana lagi, aku yakin besok pasti Rara demam.
Saat Rara pulang, aku tidur di kamar. Jam 20.30, ada suara pintu terbuka. Aku yang masih setengah sadar mengira kalau itu adalah orang tuaku. Ya sudah aku pun melanjutkan tidurku. Pagi harinya…. Aku terbangun dan aku kaget karena sudah jam 07.45.
Ya ampun aku telat bangun. Aku keluar dari kamar dan melihat kamar orang tuaku terbuka, tapi tidak ada siapa siapa. “Mama sama papa kan kerja nya jam delapan tepat, kok gak ada ya?”
Karena berfikir kalau mereka sudah pergi. Aku pergi ke rumah nenek karena takut sendirian di rumah. Saat sampai, aku merasa aneh, tidak ada siapa-siapa di rumah nenek. Setelah aku cek ke rumah Rara, dia juga tidak ada. Aku pun kembali ke rumah. Saat kembali, aku melihat ada perempuan berbaju kuning sedang berkaca di ruang kecil.
Sejak kapan ada kaca? Dan perempuan siapa dia? Apa dia adalah maling? batinku. Karena takut ada apa-apa, aku mengambil vas dan ingin mencoba memukulnya, namun vas itu tembus. A…apa dia hantu? Setelah menunggu,ada seorang perempuan lain masuk diam-diam dan mengambil sebuah vas dan dipukulkan ke muka perempuan berbaju kuning itu.
Rambutnya diacak-acak juga digunting. Bajunya disobek dan pergelangan tangannya digores dengan pisau tajam. Tak berapa lama, setelah perempuan berbaju kuning itu lemah tak berdaya, perempuan jahat itu memaksa perempuan berbaju kuning untuk meminum segelas air yang sudah diracuni.
“Kamu telah mengambil pacarku! Rasakan pembalasanku!”
Dari mulut gadis berbaju kuning, mengeluarkan darah. Darah itu menodai pakaian perempuan itu. Tak berapa lama, setelah menyiksa perempuan berbaju kuning, perempuan jahat itu keluar dari rumah. Setelah itu,seorang ibu-ibu masuk dan bersedih
“Mara, ada apa denganmu nak?”
“I…i…ibu, dia membunuhku!” setelah itu perempuan berbaju kuning yang ternyata namanya Mara itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu-ibu itu ternyata adalah NENEKKU! Aku tak menyangka,bahwa Mara itu adalah adik ayahku. Dia bibiku. Dan perempuan jahat itu bernama Dirna. Dia mantan pacar, pacarnya bibi Mara. Kejamnya! Dia membunuh bibiku!
Setelah itu, terang, ternyata itu cuma mimpi. Aku akhirnya tau, perempuan berbaju kuning yang ada di ruang kecil itu adalah bibiku, dia pemilik rumah ini sebelumnya. Nenek merahasiakannya! Aku pun segera mencari nenek dan menemuinya.
“Nenek kenapa tega, nenek tidak memberitahu Tina tentang Bibi Mara! Nenek menyebalkan!”
“Kau sudah tau rupanya. Maafkan nenek, Na. Nenek tidak ingin mengungkit masa lalu nenek.”
“Maaf kan Tina juga ya nek, Tina tadi marah-marah…”
“Oh, ya apakah Dirna sudah masuk penjara?”lanjutku.
“Iya, dia masuk penjara.”
“Lalu kenapa Bibi Mara masih menunjukan wajahnya?”
“Biarlah dia tenang berada di ruang kecil itu. Dia baik. Dia tidak tega menakutimu Tina. Maka dari itu dia memberitahumu tentang semua yang terjadi. Biarkan dia tenang ada disana…”
“Oh, kalau gitu Tina tidak perlu takut sama Bibi Mara. Terima kasih nek, sudah memberitahuku.”
Hingga saat ini, Mara atau perempuan berbaju kuning penunggu ruang kecil itu masih menunjukan wajahnya yang bersedih. Dia sayang padaku.
Selesai

Saturday, December 30, 2017

DIANTARA TANDA PETIK



Edisi #UCREATE
Karya: M. Kamal Fauzi NIM 1400468
Mahasiswa S1 Pendidikan Kewarganegaraan

Diantara tanda petik
Kutemukan namamu dari rahasia yang Tuhan sembunyikan
Aku tuliskan sebuah kata yang mengasingkan jiwa ku dalam perawatan rasa
Mencari argumen berupa cinta, bertabur duka, mengundang lara dan gundah gulana

Diantara tanda petik
Tersuratlah semua hayal tentang mu
Tentang suatu masygul yang menghantui di sepertiga malam
Yang menghujam tepat di benak ku

Diantara tanda petik
Dititipkan perasaanku dalam keadaan subhat
Bukan aku yang meragu, tapi engkau yang enggan mendiskusikan perasaan ku dengan akal dan hati mu

Jikalah ku minta padamu, maukah engkau genapkan perasaan ini agar ia tak tunggal dan kesepian dalam raga ku?
Seperti halnya mahluk lainya, "bahkan keindahan surga tak bisa menghilangkan Kesepian Adam" begitu kata Khalil Gibran.

Diantara tanda petik
Kau balas segalanya dalam curiga yang membara
Mempertanyakan segalanya dengan terbata-bata
Memaksaku untuk berhenti berharap menghayal tentang mu

Dan di akhir kata sebelum titik diantara dua tanda kutip
Kutulis kata akhir ku
"Masihkah ada secarik tanah untuk ku di taman hati mu"


(Al-Qulman : 2017)

Thursday, December 28, 2017

KIRIMAN KEPALA


Edisi #UZEREM
Oleh: Y Surya Atmaja NIM1507247
Mahasiswa S1 Pendidikan Kewarganegaraan

Ini adalah sebuah cerita singkat di sebuah daerah tepatnya di daerah Andir Baleendah. Kejadian ini terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu , dan cerita ini masih menjadi buah bibir masyarakat sekitar sampai saat ini.

Di daerah tersebut ada seseorang yang di anggap setengah gila oleh masyarakat sekitar, sebut saja Oden, namun sebenernya Oden tidak benar-benar gila , dia masih bisa sedikit diajak komunikasi namun tingkah lakunya terkadang aneh. Entah apa penyebab Oden bisa menjadi seperti itu, masyarakat sekitar tidak memandang aneh kepadanya dan sudah tidak menganggap aneh prilakunya karena memang dia sudah lama mengidap penyakit kejiwaan itu dan Oden memang masih memliki keluarga yang mengurusnya.
Namun anggapan masyarakat bahwa Oden itu adalah orang gila biasa ternyata salah besar. 

Saat malam hari dia mengirim sesuatu ke rumah kakaknya, entah apa yang dia kirim namun barang kirimannya itu di balut dengan sebuah kresek hitam yang tidak terlalu besar. Kakaknya menerima barang kirimannya itu dengan perasaan biasa saja sampai akhirnya kecurigaan pun menyelimuti ,karena bentuk sesuatu yang di kirim Oden sangat aneh , bentuknya bulat lonjong seperti semangka dan sedikit berat tapi memiliki sedikit tekstur di permukannya, dan terasa sedikit cairan dingin ada di dalam kantong kresek tersebut. Kakak Oden pun langsung membukanya dan berkata“ Den ieu naon sih , samangka?” ucapnya. Tapi ternyata Kakak Oden di buat kaget bukan main karena di dalam kantong kresek itu adalah kepala dari ayahnya dan cairan dingin itu adalah darah yang mengucur dari potongan kepala ayahnya dengan perasaan takut dia memandang Oden dan Oden berkata “Bapak di paehan ku Oden” .

Temen-temen hati-hati ya jangan langsung di terima kalo dapet kiriman dan bentuknya mirip semangka :)

Tuesday, December 26, 2017

Kisah Pelaut yang Kembali Pulang


Karya: Nurul Yunita NIM 1507214
Mahasiswa S1 Departemen Pendidikan Kewarganegaraan
Ig: @rulyunit
Laut itu luas. Langit diatasnya biru dengan awan putih yang bergerak cepat. Seorang pelaut dan pantai menjadi frame indah dalam sebuah lukisan. Tinta-tintanya tergores rapi diatas kanvas. Sayangnya, hidup ini tak begitu indah hanya dalam kanvas. Tak selamanya, yang baik-baik saja benar-benar baik. Aku memandangi lukisan yang terpajang disalah satu sudut pameran. Lambat laut, lukisan itu seakan bercerita. Ia seakan bercerita tentang sepi dan ragu. Keduanya berpadu dalam redaman rindu yang teramat dalam.
***
Mata pelaut itu terpejam. Ia berharap semuanya hanya mimpi. Matanya terbuka, menatap sekelilingnya. Masih sama, laut itu masih luas nan biru, hamparan pasir yang mengelilinginya masih sama, sepanjang pantai inipun masih sama: kosong. Tak ada orang lagi selain dirinya. Sayup-sayup air laut mengenai jemari kaki pelaut itu, angin pantai bertiup pelan, menyisir rambut-rambut halus sang pelaut. Ia terpejam sekali lagi. Kali ini, air mata mulai bermunculan dari sudut-sudut mata sang pelaut. Dalam pejaman matanya kali ini, sang pelaut teringat akan tanah kelahirannya. Tempat awal ia berpijak.
Ia tau tempat untuk pulang, tapi hatinya ragu untuk kembali. Masihkah tempat itu ada untuknya? Pelaut ini tidak baik-baik saja. Ia tak punya apa-apa lagi. Ragu, pelaut itu ragu untuk kembali. Apakah tanah kelahirannya akan sama setelah ia pergi begitu lama?
Tak ada kata kembali. Sejak pelaut itu memutuskan untuk pergi dari tanah kelahirannya, ia telah memutuskan untuk tidak kembali. Namun, setelah ribuan pulau dijumpai, entah berapa samudra lagi telah ia lalui, pada akhirnya ia ingin kembali pulang. Kembali pada tempat dimana ia berasal. Pada akhirnya, pelaut itu berbisik pada laut. Tentang ia dan tentang hatinya.
***
Aku bukan seorang pelaut yang baik-baik saja. Ku akui itu. Aku melintasi ratusan mil samudra, tak sedikit ku terluka. Aku bukan pelaut  yang baik-baik saja. Pernah satu kali, saat aku terluka, aku tak punya apa-apa. Ku basuh lukaku dengan air laut. Pedih sekali, tapi kau tentu tau pedih teramat sangat ialah ketika pertama kali kuputuskan untuk pergi. Teramat jauh.
Bagaimana aku dapat mendefinisikanmu, jika kata yang kurangkai belum dapat ku bentuk? Aku ingin pulang. Dan kuakui, aku merindumu terlalu dalam. 
Aku bukan seorang pelaut yang baik-baik saja. Setiap malam, ketika cahaya mentari memantul pada sang rembulan dan ribuan planet nun jauh disana bersinar, aku selalu kesepian. Aku hanya punya satu keyakinan: ketika ku kembali nanti, kamu masih sama. Masih menungguku.
***
Lukisan di sudut pameran itu akhirnya berhenti bercerita. Pada akhirnya, sang pelaut tentu harus kembali. Entah kapan, atau berapa lama ia memutuskan untuk kembali. Tapi, bukankah tempat untuk pulang selalu ditunggu?

***