Thursday, February 12, 2026

Pulpen yang Tak Terbeli, Nyawa yang Tak Terselamatkan: Tragedi Pendidikan di Nusa Tenggara Timur

 

Pulpen yang Tak Terbeli, Nyawa yang Tak Terselamatkan: Tragedi Pendidikan di Nusa Tenggara Timur

Sebuah peristiwa tragis mengguncang dunia pendidikan Indonesia setelah seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR (10), ditemukan meninggal dunia pada akhir Januari 2026. Peristiwa ini memicu perhatian luas publik dan menjadi sorotan tajam terhadap persoalan kemiskinan struktural serta lemahnya akses pendidikan dasar bagi kelompok masyarakat rentan.

Peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Jerebuu. Berdasarkan keterangan warga setempat, korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dekat tempat tinggalnya. Sebelum kejadian, YBR diketahui meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen guna keperluan sekolah. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Tragedi ini kemudian viral di media sosial dan memicu keprihatinan nasional.

Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada, Agus Sartono, menilai bahwa peristiwa ini mencerminkan kegagalan sistem pendataan dan penyaluran bantuan pendidikan. Ia menyatakan bahwa dengan sistem data terpadu yang akurat, anak-anak dari keluarga miskin seharusnya telah terjangkau oleh program bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan bantuan sosial lainnya, sehingga tidak mengalami keterbatasan alat belajar dasar.

Pemerintah pusat turut memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Menteri Sekretaris Negara, menyampaikan bahwa pemerintah akan menangani kasus tersebut secara cepat dan menyeluruh. Koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pendidikan, dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menegaskan bahwa tragedi ini merupakan peringatan keras bagi sistem perlindungan sosial nasional. Ia menekankan perlunya percepatan pemutakhiran data keluarga miskin serta penguatan pendampingan sosial agar tidak ada keluarga rentan yang terlewat dari program bantuan pemerintah.

Dari tingkat daerah, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, secara terbuka menyampaikan duka mendalam sekaligus mengakui adanya kegagalan sistemik dalam mencegah tragedi tersebut. Ia menyatakan bahwa apabila seorang anak meninggal karena kemiskinan ekstrem dan ketidakmampuan mengakses pendidikan dasar, maka kegagalan tersebut bukan hanya berada pada keluarga, melainkan juga pada pemerintah di semua tingkatan.

Tragedi kematian YBR membuka kembali diskursus publik mengenai efektivitas kebijakan pendidikan gratis di Indonesia. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana kebijakan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat termiskin, terutama di wilayah tertinggal dan terpencil seperti NTT. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa akses pendidikan bukan sekadar kebijakan normatif, melainkan hak dasar anak yang harus dijamin secara nyata oleh negara. 

Previous Post
Next Post

Unit Pers dan Penerbitan HMCH adalah salah satu unit khusus dalam intern Himpunan Mahasiswa Civics Hukum Jurusan Pendidikan Kewaganegaraan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia yang bergerak di bidang jurnalistik

0 comments: