Monday, June 22, 2026

Makan Gratis Hari Ini, Pendidikan Jadi Tumbal Besok? Saat Rupiah Melemah, BBM Naik, dan Demokrasi Dipertanyakan, Mahasiswa Bandung Menggugat!

 

Oleh: Risma Sri Hendayani

Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menggugat menggelar aksi damai di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat pada Kamis, 11 Juni 2026. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi atas berbagai keresahan kolektif yang dirasakan masyarakat terhadap sejumlah kebijakan dan kondisi nasional. Isu-isu krusial yang diangkat meliputi pelemahan nilai tukar rupiah, polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menggerus anggaran pendidikan, pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Polri, dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax.

Suara Mahasiswa di Tengah Keresahan Nasional

Salah satu peserta aksi, Feisha dari Pendidikan Sejarah UPI mengungkapkan bahwa aksi ini adalah manifestasi dari keresahan yang melimpah dan dirasakan semakin memperburuk keadaan negara. "Keresahan yang melimpah, yang memang makin di sini makin carut-marut gitu keadaan negaranya. Oleh sebab itu ya kita resah, bukan hanya dalam sektor ekonomi, bukan hanya dalam sektor politik tapi dalam segala sektor kita resah," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan sentimen umum di kalangan mahasiswa yang merasa perlu untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap arah kebijakan pemerintah.

Muhammad Azhar Ibrahim, mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI menegaskan bahwa gerakan ini bukan muncul dari ruang kosong, melainkan hasil pengkajian panjang bersama aliansi mahasiswa dan rakyat. Ia menyoroti kebijakan yang dinilai tidak memihak rakyat kecil, khususnya terkait program MBG. "Pada intinya, aksi pada hari ini bukan berasal dari ruang yang kosong. Ini adalah melalui proses-proses pengkajian yang panjang bersama aliansi mahasiswa dan aliansi rakyat. Kita menamakan aliansi ini sebagai aliansi rakyat menggugat," jelasnya.

Pelemahan Rupiah dan Ancaman Stabilitas Ekonomi

Isu pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi ini, kekhawatiran atas dolar yang mencapai Rp18.000. Meskipun data terkini menunjukkan fluktuasi, nilai tukar USD/IDR sempat menyentuh angka Rp17.780,0000 pada 12 Juni 2026. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat. Kenaikan nilai dolar secara signifikan dapat berdampak pada harga barang impor, memicu inflasi, dan pada akhirnya menurunkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah juga berpotensi memukul sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Meskipun Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas, tekanan eksternal dan internal terus menjadi tantangan. Beberapa ekonom memprediksi bahwa tanpa intervensi kebijakan yang kuat, dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bisa semakin terasa.

Polemik Anggaran Pendidikan dan Program Makan Bergizi Gratis

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi titik perdebatan sengit karena dugaan realokasi anggaran pendidikan untuk membiayai program ini. Berbagai pihak mengkhawatirkan bahwa alokasi dana sebesar Rp223 triliun dari anggaran pendidikan untuk MBG, serta upaya memasukkan sebagian anggaran MBG ke dalam pos pendidikan, dapat menggerus kualitas pendidikan di Indonesia. Perdebatan ini bahkan telah memicu perlawanan dari kalangan guru dan dosen yang membawa isu ini ke Mahkamah Konstitusi, menganggap kebijakan tersebut melanggar amanat konstitusi terkait alokasi 20% APBN untuk fungsi pendidikan. Kekhawatiran utama adalah bahwa program ini dapat mengalihkan fokus dari peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan, kesejahteraan guru, dan pengembangan kurikulum yang esensial bagi masa depan bangsa

Isu Kebijakan Lain: RUU Polri dan Kenaikan Harga Pertamax

Selain isu ekonomi dan pendidikan, pengesahan RUU Polri juga menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan masyarakat sipil. Proses pengesahan yang dinilai terlalu cepat dan kurang melibatkan diskusi publik yang memadai menimbulkan kekhawatiran akan potensi perluasan kewenangan Polri yang tidak sejalan dengan prinsip kepolisian demokratis. Prof. Harkristuti Harkrisnowo, seorang pakar hukum, mencatat setidaknya ada 10 hal dalam RUU Polri yang patut mendapat sorotan, terutama terkait perluasan kewenangan yang berpotensi tumpang tindih dengan lembaga lain dan mengancam hak asasi manusia. Koalisi masyarakat sipil juga menolak keras pengesahan RUU ini, menilai ketentuan yang termaktub tidak sejalan dengan semangat reformasi kepolisian dan demokrasi.

Bersamaan dengan itu, kenaikan harga BBM jenis Pertamax juga menambah beban masyarakat. Pada 10 Juni 2026, harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter. Meskipun dampak kenaikan ini terhadap inflasi nasional dinilai masih terkendali oleh beberapa pakar, namun tetap menimbulkan efek berantai pada biaya transportasi, distribusi logistik, dan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah. Kenaikan harga energi, termasuk Pertamax, seringkali menjadi cerminan dilema antara menjaga kesehatan anggaran negara dan melindungi daya beli masyarakat. Meskipun pemerintah berdalih untuk mengurangi beban subsidi, dampaknya langsung dirasakan oleh konsumen dan pelaku usaha. Analisis sentimen masyarakat menunjukkan adanya kekhawatiran akan lonjakan biaya hidup yang lebih tinggi, terutama jika diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya

Tuntutan Mahasiswa: Pemantik Kesadaran dan Akuntabilitas

Ghozi Syahidi, Ketua Umum BPO Senat FPIPS UPI, menegaskan bahwa setiap permasalahan memiliki urgensi yang sama besar dan menumpuknya masalah tanpa solusi memicu krisis. "Setiap daripada permasalahan ini tidak kian ada solusinya, tidak kian ada hilal baiknya mungkin kiranya. Jadinya setiap daripada permasalahan itu terus menumpuk dan mendramatisir krisis Indonesia hari ini," jelas Ghozi.

Ghozi juga menyoroti pentingnya konsolidasi antar kampus sebagai indikator keseriusan gerakan mahasiswa. "Kalau secara general seluruh daripada simpul-simpul kampus bisa dinilai daripada konsolidasi akbar yang kemarin kebetulan UPI selenggarakan. Kebetulan kemarin kita bersama-sama dengan rekan dari kampus-kampus lain baik itu secara individu mereka masing-masing ataupun secara kelembagaan universitasnya," tambahnya. Ia menjelaskan bahwa di UPI sendiri, serangkaian kajian internal dan konsolidasi taktis telah dilakukan, menunjukkan bahwa "seluruh daripada lapisan mahasiswa sudah ter-unfreezing untuk sama-sama satu persepsi kepermasalahan yang ada". 

Para mahasiswa berharap aksi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat luas dan pemerintah. Muhammad Azhar Ibrahim menyatakan bahwa aksi damai ini adalah cara untuk menyampaikan aspirasi, keresahan, dan kemarahan dengan cara yang terpimpin. "Aksi ini merupakan aksi yang sudah tepat dilaksanakan, bahwasannya, Kita melaksanakan aksi damai, kita melaksanakan aksi yang terpimpin, Di mana aksi ini menyampaikan aspirasi, kita menyampaikan keresahan, dan kita menyampaikan kemarahan. Tapi dengan cara yang damai," tuturnya. Lebih lanjut, Ghozi menekankan bahwa aksi ini adalah langkah yang tepat dan merupakan representasi dari asas demokrasi mahasiswa. "Ya karena terakhir daripada hasil konsolidasi kami ialah melaksanakan aksi. Tentunya ini merupakan langkah yang tepat atas asas demokrasi dari setiap lapisan mahasiswa gitu kiranya. Dari setiap simpul yang ada di konsolidasi kemarin pada akhirnya menyepakati adanya gerakan aksi ini. Jadi kalau dibilang tepat, tentu tepat. Karena pada akhirnya ini menjadi representatif dari setiap mahasiswa yang ada di setiap simpulnya," tegasnya, menggarisbawahi legitimasi gerakan ini sebagai suara kolektif.

Mereka juga menuntut agar pemerintah lebih transparan dan melibatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan. Jika aspirasi rakyat tidak didengarkan, Aliansi Rakyat Menggugat mengisyaratkan akan melakukan eskalasi aksi yang lebih besar.  Aksi ini menjadi representasi keresahan mahasiswa dan masyarakat yang menuntut perubahan dan akuntabilitas dari pemerintah. 

Referensi

https://antikorupsi.org/id/makan-gratis-pakai-anggaran-pendidikan-tipu-tipu-pemenuhan-20-apbn-untuk-pendidikan

https://www.hukumonline.com/berita/a/anggaran-pendidikan-tergerus-program-mbg--guru-dan-dosen-melawan-ke-mk-lt6995771979936/

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn42dl7wykpo

https://www.tempo.co/politik/berbagai-kritik-pengesahan-ruu-polri-2253987

https://ekonomi.republika.co.id/berita/tgkm0g502/ekonom-paparkan-potensi-dampak-kenaikan-pertamax-pada-inflasi

https://www.hukumonline.com/berita/a/10-catatan-prof-harkristuti-terhadap-perluasan-kewenangan-polri-lt668ff315e4495/

Previous Post
Next Post

Unit Pers dan Penerbitan HMCH adalah salah satu unit khusus dalam intern Himpunan Mahasiswa Civics Hukum Jurusan Pendidikan Kewaganegaraan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia yang bergerak di bidang jurnalistik

0 comments: